MEDIA PENDIDIKAN DALAM PROSES
PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Proses pembelajaran yang efektif, menyenangkan, menarik, dan bermakna bagi peserta didik dipengaruhi oleh berbagai unsur antara lain pendidik yang memahami secara utuh hakekat, sifat, dan karakteristik peserta didik, metode pembelajaran yang berpusat pada kegiatan peserta didik, sarana belajar peserta didik yang memadai, tersedianya berbagai sumber belajar dan media yang menarik dan mendorong peserta didik untuk belajar, dan lain-lain. Secara khusus, tersedianya berbagai sumber belajar akan mendukung terhadap penciptaan kondisi belajar peserta didik yang menarik dan menyenangkan. Salah satu sumber belajar tersebut adalah media pembelajaran.
Mengingat peran media pembelajaran disatuan pendidikan sangat penting dalam menunjang keberhasilan proses dan pencapaian hasil belajar yang diharapkan, pemahaman pendidik secara utuh mengenai pentingnya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran disatuan pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus menjadi perhatian pendidik. Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat memahami secara mendalam mengenai media pendidikan dalam proses pembelajaran.
A. PERKEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Awal sejarah pendidikan, pendidik/guru merupakan satusatunya sumber untuk memperoleh pembelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657.
Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tidak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi peserta didik/siswa melalui semua indera, terutama indera pandang-dengar.
Masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal dengan audio visual atau audio visual aids (AVA), maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran. Usaha usaha untuk membuat pelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan. Dalam usaha itu, Edger Dale membuat klasifikasi 11 tingkatan pengalaman belajar yang paling konkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama “Kerucut Pengalaman” (Cone of Experience) dari Edger Dale, para pendidik sangat terpikat dengan Kerucut Pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada peserta didik.
KERUCUT PENGALAMAN E.DALE
Menurut Arief Sadiman, dkk (2012:9) pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, yang berguna sebagai penyalur pesan dari sumber pesan sampai kepada penerima pesan. Begitupun dalam dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu pendidik saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, pada waktu itu faktor peserta didik yang menjadi komponen utama dalam pembelajaran belum mendapat perhatian khusus dalam dunia pendidikan.
Tahun 1960 para ahli mulai memperhatikan peserta didik sebagai komponen utama dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat itu teori tingkah-laku (behaviorism theory) dari B.F Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku peserta didik sebagai hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil teori ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan programmed instruction (pembelajaran terprogram).
B. KEDUDUKAN MEDIA DALAM SISTEM PEMBELAJARAN
Sebelum membahas tentang sistem pembelajaran, kita pahami terlebih dahulu kata sistem. Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari sejumlah komponen atau bagian yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya atau pengertian lain dari sistem yaitu sutu kesatuan komponen yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran dikatakan sebagai sistem karena didalamnya mengandung komponen yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Komponen komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, media dan evaluasi. Masing-masing komponen saling berkaitan erat merupakan satu kesatuan. Untuk lebih memahami sistem pembelajaran lihatlah gambar dibawah ini.
KEDUDUKAN MEDIA DALAM SISTEM PEMBELAJARAN
Proses perancangan pembelajaran selalu diawali dengan perumusan tujuan instruksional khusus sebagai pengembangan dari tujuan instruksional umum. Dalam kurikulum 2006 perumusan indikator selalu merujuk pada kompetensi dasar dan kompetensi dasar selalu merujuk pada standar kompetensi. Usaha untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran dibantu oleh penggunaan alat bantu pembelajaran yang tepat dan sesuai karakteristik komponen penggunannya. Setelah itu pendidik menentukan alat dan melaksanakan evaluasi.
Hasil dari evaluasi dapat menjadi bahan masukan atau umpan balik kegiatan yang telah dilaksanakan. Apabila ternyata hasil belajar siswa rendah, maka kita mengidentifikasi bagian-bangain apa yang mengakibatkannya. Khususnya dalam penggunaan media, maka perlu melihat bagaimana efektivitas apakah yang menjadi faktor penyebabnya (Cepi Riyana, 2012:8).
Atas dasar analisis beberapa komponen dalam sistem pembelajaran, media merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran. Artinya kedudukan media sebagai salah satu kompenen dalam sistem pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari komponen lainnya, dengan kata lain media pembelajaran bukanlah komponen yang berdiri sendiri yang terlepas dari komponen lainnya. Media pembelajaran memiliki kedudukan yang sama dengan komponenkomponen pembentuk sistem pembelajaran.
C. KEGUNAAN MEDIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk akata-kata tertulis atau lisan belaka)
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera,
3. Penggunaan media secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta didik.
4. Dengan sifat yang unik pada setiap peserta didik ditambah lagi dengan lingkungan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap peserta didik, maka seorang pengajar akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan pendidik dengan peserta didik juga berbeda.
Sementara itu Abu Bakar Muhammad, berpendapat bahwa kegunaan alat/ media pembelajaran itu antara lain adalah 1) mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit, 2) mampu mempermudah pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih hidup dan menarik, 3) merangsang anak untuk bekerja dan menggerakkan naluri kecintaan menelaah (belajar) dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajarai sesuatu, 4) membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, memperhatikan dan memikirkan suatu pelajaran serta, 5) menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam indera, melatihnya, memperluas perasaan dan kecepatan dalam belajar.
D. PENTINGNYA MEDIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Berbicara mengenai belajar mengajar hal yang terpenting adalah proses, karena proses inilah yang menentukan tujuan belajar akan tercapai atau tidak tercapai. Ketercapaian dalam proses belajar mengajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut baik yang menyangkut perubahan bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Proses belajar mengajar di dalamnya ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainaya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran. Pada kenyataannnya, apa yang terjadi dalam pembelajaran seringkali terjadi proses pengajaran berjalan dan berlangsung tidak efektif. Banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang sia-sia sedangkan tujuan belajar tidak dapat tercapai bahkan terjadi noises dalam komunikasi antara pengajar dan pelajar. Hal tersebut diatas masih sering dijumpai pada proses pembelajaran selama ini.
ARTIKEL LAINNYA :
TERIMA KASIH...
Komentar
Posting Komentar